Ini Dia Kabar dari Petani CROWDE di Tengah Pandemi

Ini adalah kisah petani mitra CROWDE yang berbagi pengalamannya setelah bergabung bersama CROWDE. Namanya Pak Pian, petani asal Kabandungan, Sukabumi, Jawa Barat, yang berbudidaya cabai merah besar. Beliau sudah cukup lama berprofesi sebagai petani, namun beliau baru bergabung di CROWDE selama satu tahun terakhir ini. Memang diakuinya kalau bertani itu banyak tantangannya. Hingga kini, yang paling membuatnya resah adalah masalah penyakit tanaman seperti busuk buah, patek, yang sering kali menyebabkan hasil panen berkurang. Namun, beliau tidak masalah. Dengan kondisinya saat ini, Pak Pian tetap bersyukur meski harus menghadapi berbagai kendala ketika berbudidaya.

Setelah bergabung di CROWDE, Pak Pian juga turut merasakan perbedaan dan manfaat yang positif.

“Saya bisa mendapat akses permodalan, lahan garapan semakin luas, hingga mampu mengembangkan pertanian di daerahnya”, ungkap beliau.

Mengingat kondisi saat ini, kita sedang berada di tengah pandemi. Nyatanya, sektor pertanian juga terkena dampaknya. Petani seperti Pak Pian juga mengaku ikut terdampak. Apa dampak yang beliau rasakan?

Pak Pian berkata, “Dampak pandemi yang saya rasakan paling utama masalah harga jual hasil panen di pasaran yang rendah dan saya kesulitan mengambil obat-obatan serta pupuk untuk budidaya.” 

Bila di telisik, harga bahan pangan yang turun saat pandemi ditengarai oleh menurunnya daya beli masyarakat. Sehingga stok bahan pangan yang tersedia tidak mampu terserap maksimal. Pada akhirnya, harga terpaksa harus diturunkan untuk memacu daya beli masyarakat. Petani kita jelas semakin dirugikan karena harga jual yang turun bisa mengurangi keuntungan mereka. Menurut data, pada bulan Mei lalu, Nilai Tukar Petani (NTP) sampai di bawah 100, yaitu 99,47. Artinya, petani mengalami defisit karena permintaan yang menurun membuat hasil panen tidak terserap maksimal, akibatnya petani merugi.

Mereka yang tetap harus berbudidaya di tengah pandemi juga mendapati kesulitan mengambil obat-obatan serta pupuk. Ini disebabkan oleh adanya pembatasan pergerakan manusia saat pandemi membuat para petani terlambat mendapat obat-obatan untuk hama dan juga pupuk karena lokasi toko pertanian yang berada cukup jauh dari tempat tinggal mereka.

Namun, Pak Pian justru bersyukur dengan profesinya sebagai petani. Masyarakat di daerahnya yang rata-rata berprofesi sebagai petani juga bisa menjadi petani yang sukses.

“Dari pertanian juga alhamdulillah ada lebihnya untuk biaya hidup sehari-hari”, tambahnya. 

Beliau juga tidak lupa memanjatkan harapan bagi sektor pertanian kedepannya. Pak Pian berharap bisa semakin mudah mendapat akses permodalan untuk usaha taninya, harga jual hasil panen bisa lebih stabil atau kembali normal meski di tengah pandemi, serta berharap sektor pertanian bisa semakin maju dan berkembang.

Kunjungi Juga : https://twitter.com/temancrowde?ref_src=twsrc%5Egoogle%7Ctwcamp%5Eserp%7Ctwgr%5Eauthor

Beliau yakin, memiliki usaha di bidang pertanian bisa menjadi bisnis jangka panjang karena bahan pangan pasti selalu dibutuhkan oleh penduduk kita. Bahkan, Pak Pian juga mendukung bila punya anak laki-laki supaya bisa menjadi petani seperti dirinya. #BersamaPetani kebutuhan pangan jadi aman.

Sumber : https://blog.crowde.co/ini-dia-kabar-dari-petani-crowde-di-tengah-pandemi/