Co Working Space, Kantor Tidak Perlu Lagi Resepsionis Menawan

Co Working Space, Kantor Tidak Perlu Lagi Resepsionis Menawan
Co working space alias ruang kerja bersama sedang menjadi primadona bagi para pekerja di kota besar. Tidak perlu mempunyai kantor para pekerja dapat menyewa meja kerjanya sendiri. Ruang kerja ini menjadi sebuah fenomena yang cukup unik, malahan seakan-akan menggeser istilah “ngantor”. Co working space malah menjamur di sebagian kota besar. Lalu apa sesungguhnya yang membikin ruang kerja bersama ini ‘naik daun’ dan menjamur di masyarakat? Pendiri sekalian pemilik U8 Offices salah satu penyedia co working space di Jakarta, Fariz Rachman mengevaluasi bahwa digitalisasi yang terjadi di zaman kini mendukung fenomena ini terjadi. Ia membeberkan bahwa digitalisasi mendukung bergesernya keperluan akan sebuah ‘kantor’.

Baca : Coworking space medan

Digitalisasi berdasarkan Fariz, sudah mendukung kemudahan-kemudahan untuk berupaya, mulai dari pengolahan data sampai pembentukan dokumen dapat dikerjakan secara komputerisasi. Hal hal yang demikian mendukung munculnya daerah-daerah kerja dengan macam baru yang pelbagai, salah satunya co working space. Saking mudahnya ia mengevaluasi sekarang para pekerja tidak butuh lagi kerangka konvensional sebuah kantor. “Terminologinya peng-cloud-an semuanya, sehingga orang tak lagi butuh kerangka konvensional, hasilnya orang tak butuh lagi kantor yang butuh resepsionis yang rupawan yang indah semisal. Aku rasa, itu yang berkontribusi bikin daerah kerja macam baru, termasuk co working space,” terang Fariz. Di lain pihak, Muh, Public Relation dari Kolega salah satu penyedia jasa co working space lainnya menuturkan bahwa co working space menjamur sebab keperluan para pekerja. Ia mengevaluasi sekarang banyak profesi yang memang memerlukan fleksibilitas.

Berdasarkan Muh justru sekarang banyak pekerja yang pekerjaannya betul-betul dinamis karenanya dari itu pekerja memerlukan daerah kerja dengan fleksibilitas tinggi. Apalagi dengan kemunculan sebagian pekerjaan komputerisasi sebab kemajuan teknologi. “Keperluan sih ya sebab memang orang butuh ruang kerja yang fleksibel gitu, kita ikutin popularitas pekerja kini mereka butuh ruang kerja yang fleksibel. Banyak milenial, pekerja jaman now lah, yang pekerjaannya dinamis dan juga butuh daerah kerja yang menyokong, dari segi waktu dan daerah,” ungkap Muh.

Bukan cuma fleksibel saja, desain interior yang ada pada co working space malah menjadi tenaga tarik para pekerja, yang memang pada lazimnya masih berusia muda. Muh mengevaluasi pekerja-pekerja muda ini juga butuh daerah kerja yang tak membosankan dengan suasana yang nge-pop dan trendy. Muh menyimpulkan sebab potensi keperluan hal yang demikian, karenanya co working space menjadi menjamur. Apalagi menurutnya yang memerlukan malah cukup banyak, tak heran jika ruang kerja bersama ini menjamur. “Penyewa kita banyak milenial ya jangka usia 22-30 an lah, mereka ini menyukai daerah kerja yang nge-pop dan trendy. Kebanyakan juga kan co working space itu nggak kaku ya desainnya, arsitekturnya, semua macamnya. Intinya, mengapa kita jadi popularitas, sebab kita menjawab keperluan yang memang lagi ada dan banyak,” ungkap Muh.

Muh mengambil teladan, sebuah perusahaan rintisan yang lazimnya cuma mempunyai sedikit karyawan di dalamnya, sebab sedikit menurutnya tak mungkin mereka akan menyewa sebuah kantor. Belum lagi dengan profesi mereka yang memang dinamis dan butuh fleksibilitas yang tinggi. “Seumpama kaya startup gitu, acap kali itu mereka hanya 2-3 orang doang isinya, ya sedikit orang gitu aja kan masa ingin nyewa kantor? Biar fleksibel mereka juga mending ke co working, mereka butuh desk buat berapa orang, mereka butuhnya kapan,” ungkap Muh.

 

 

Baca juga : Coworking space di medan