Pertanian Berpotensi Menggunakan Teknologi Blockchain

Foto: HARA

Blockchain Indonesia – Berdasarkan data World Bank, perekonomian Indonesia ketika ini termasuk dalam urutan ke 16 dalam golongan perekonomian terbesar di dunia. Sebanyak 33% angkatan kerja berprofesi di sektor pangan dan pertanian.

Kecuali itu, sebanyak 13,95% Produk Domestic Bruto (PDB) berasal dari sektor pangan dan pertanian yang berjumlah US$ 129.6 miliar.

Sebagai negara agraris, beraneka tantangan dihadapi Indonesia, antara lain produktivitas padi dari petani Indonesia yang masih rendah (14,5% lebih rendah dibanding Vietnam), membikin tarif produksi menjadi yang termahal se-Asia berdasarkan data dari International Rice Research Institute (IRRI).

Kecuali itu, diinformasikan dari McKinsey Research, rendahnya efisiensi rantai distribusi antar petani ke konsumen juga mengakibatkan para petani Indonesia masih patut menghadapi kerugian dalam hal penurunan mutu pasca panen sebesar 20% tiap tahunnya.

Bermacam tantangan ini antara lain bersumber dari ketidakmerataan data dan ketidakseragaman info berhubungan dengan kapasitas, pasar dan pembiayaan bagi segala pemain di sektor pertanian.

Berkembangnya teknologi blockchain, dapat menjadi solusi bagi tantangan kongkret yang dihadapi Indonesia dalam sektor ini. Itulah dibidik HARA, proyek blockchain pertama untuk menjadikan pengaruh sosial positif di Indonesia.

Blockchain secara simpel yakni struktur data yang tak bisa diubah, cuma dapat ditambahkan. Tiap data dari blockchain saling terhubung. Jadi seandainya ada perubahan di salah satu block data, akan berdampak kepada data selanjutnya.

Dengan menerapkan blockchain sebagai teknologi di balik pertukaran data terdesentralisasi pada sektor pangan dan pertanian, HARA berusaha menuntaskan problem ketersediaan info asimetris, yang menghalangi bisnis dalam rantai pasokan supaya lebih efisien dan tepat sasaran.

Sebagai salah satu ekonom terpandang di Indonesia, Chatib Basri yang pernah menjabat Menteri Keuangan Republik Indonesia di Kabinet Indonesia Bersatu II, memandang peran krusial teknologi blockchain dalam meningkatkan produktivitas pertanian Indonesia.

“Pengembangan blockchain dan teknologi komputerisasi tak diragukan lagi akan menolong menunjang perekonomian Indonesia via penyederhanaan birokrasi, memotong tarif transaksi, dan membikin pelaksanaan transaksi menjadi lebih pesat,” ujar Chatib yang sah bergabung sebagai Board of Advisor HARA.

Disebutkannya, dalam hal ini, blockchain HARA akan menolong petani di Indonesia meningkatkan produktivitas mereka, memotong tarif transaksi dan meningkatkan pendapatan mereka.

Chatib sendiri mengaku merasa terhormat menjadi komponen dari penasihat HARA. Dirinya berkeinginan sumbangsihnya dalam Board of Advisor HARA dapat berkontribusi dalam implementasi teknologo blockchain untuk pertanian.

Ia percaya, pengaplikasian teknologi blockchain bisa merevolusi sektor pertanian via ketersediaan data dan pemerataan info. Maka, HARA mengajak segala pemangku kepentingan di sektor pertanian bagus pemerintah, instansi keuangan, dan organisasi non-keuntungan untuk bergabung dalam ekosistem HARA yang berkelanjutan.

Sementara itu, CEO HARA Regi Wahyu menceritakan pihaknya merasa terhormat dapat diberi nasihat secara segera oleh Chatib Basri dalam usaha menjadikan terobosan di bidang agraris.

“Via teknologi blockchain, akan memberikan pengaruh positif bagi sektor pertanian di Indonesia dan menyokong Indonesia menempuh visinya sebagai lumbung pangan dunia pada 2045,” ujar Regi.

 

Sumber: http://coindaily.co.id